Sepatu Futsal Adidas F50 Adizero
Jumat, 14 Januari 2011Di toko ini saya juga browsing baju kaos volcom yang bisa di bilang harganya juga murah. Baju Murah bukan berarti kualitas murahankan??
Kekasih Rinduku
Selasa, 04 Januari 2011Kekasih Rinduku
wahai malam..........
jangan kau redupkan sinar dihatinya
tuk slalu menjadi cahaya cinta dihatiku
ungkap segala gundah dan resah dalam jiwa
mekarkan bunga-bunga kerinduan dalam asmara
wahai sepi.........
jangan kau sembunyikan cintanya dariku
karna yang kuharap besar sayangnya kepadaku
bangunkan rindu yang resah dalam kalbu
usik lamunan di gelap asa yang tak mengaku
wahai dingin........
jangan kau bekukan kerinduan di antara kami
karna dia slalu hadir dalam mimpi-mimpi
getarkan dawai-dawai cinta dalam hati
nyanyikan desir angin di tiap sudut sepi
wahai kekasih......
berikan aku setangkai kelembutan jiwa
tuk mampu ungkap tirai-tirai asa tersisa
sampaikan ungkap jiwa dalam relung-relung rindu
kepadamu..........
wahai kekasih rinduku.......
Persaingan Sehat Sesama Saudara Kandung
Sabtu, 26 Juni 2010Khusus yang memiliki anak lebih dari satu, bersiaplah adanya kompetisi atau persaingan antar-buah hati Anda. Persaingan tersebut wajar saja terjadi.
Namun, akan tidak normal bila persaingan itu diwarnai aksi cemburu, marah, hingga berkelahi. Bahkan bisa saja setelah dilerai, anak-anak akan tetap memperebutkan mainan, pakaian, makanan, juga kasih sayang orangtua.
Mengutip dari buku The Golden Rules to Raise Your Children, karangan Dr Alicia Christine, semakin sedikit perbedaan usia antara seorang anak dan saudaranya, semakin ketat pula persaingan yang ada. Persaingan itu timbul akibat dari dua anak atau lebih memiliki kebutuhan yang serupa sehingga mereka memperebutkan perhatian yang sama dari orangtuanya.
Hal lain yang dapat menajamkan persaingan tidak sehat ini akibat perhatian orangtua yang lebih dekat dengan salah satu anaknya saja.
Bahkan, ada penelitian yang menyimpulkan bahwa lebih dari dua pertiga anak usia lima hingga enam tahun merasa ibu mereka memilih salah seorang anak saja sebagai anak kesayangan.
Hal inilah yang sebaiknya menjadi perhatian setiap orangtua. Mulailah berikan kasih sayang dan perhatian seimbang kepada masing-masing anak.
Di sisi lain, libatkan anak-anak dalam sebuah kegiatan bersama. Misalnya, pada akhir pekan, habiskan waktu bersama untuk menyiapkan bahan masakan, menata meja makan, dan membersihkan piring-piring kotor. Tetapi ingat, selama proses tersebut, mereka tidak boleh luput dari pengawasan Anda.
Selain itu, sebagai orangtua, baik istri maupun suami harus menetapkan aturan yang sama. Oleh karena itu, konsekuensi akibat ketidakpatuhan kepada ibu juga berlaku sama saat melakukannya terhadap sang ayah.
Hargai perbedaan. Tekankan pada anak-anak Anda bahwa mereka adalah individu berbeda yang memiliki talenta masing-masing. Oleh karena tugas sebagai orangtua, ajak anak untuk tidak membandingkan kemampuannya dengan saudaranya, begitu juga Anda.
Selain itu, sebaiknya Anda menghindari pelabelan nama kepada masing-masing anak. Contohnya, si pintar, jagoan favorit, atau si bandel. Bersikaplah netral dan berikan pujian yang wajar. Hal ini untuk mencegah rasa cemburu sesama anak Anda.
Kok Si Bungsu Enggak Kayak Abangnya?
Kamis, 17 Juni 2010"Saya heran, si Dita (3, bukan nama sebenarnya) ini perempuan, tapi kok 'rusuh' begini ya? Semua mainannya rusak diinjak-injak. Dia juga keras kepala sekali. Beda banget sama si Adit (8, juga bukan nama sebenarnya) waktu kecil. Dia manis sekali, kalau diberitahu ya gampang nurut," kata Yani (41), menceritakan dua buah hatinya.
Anda yang memiliki dua anak atau lebih, pasti pernah mengalami masa-masa membandingkan si sulung dengan si bungsu, atau si sulung dengan si tengah. Seperti pengalaman Yani di atas, Anda tak habis pikir mengapa perilaku anak-anak Anda sangat bertolak belakang. Padahal, Anda dan suami menerapkan pola pengasuhan yang sama.
Jangan terkejut bila Anda mengetahui jawabannya. Menurut Gobin Vashdev, seorang parenting motivator, inilah kesalahan umum para orangtua, yaitu membandingkan anak-anaknya. "Anak pertama dan kedua itu biasanya beda banget karakternya, tapi kita justru memperlakukan mereka dengan cara yang sama," ujar Gobin, dalam talk show yang digelar Enfagrow A+ di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Setiap anak berbeda, dan orangtua seharusnya justru tahu bagaimana cara menghadapi mereka sesuai karakternya. Hal ini ada kaitannya dengan DISC profile, atau tipe kepribadian anak yang terdiri atas dominance, influence, steadiness, dan compliance.
Anak yang masuk kategori dominance, misalnya, biasanya tidak bisa diatur. Anak-anak dengan tipe dominance yang kuat adalah tipe yang menuntut, keras, egosentris, punya kemauan dan tekad yang kuat, ambisius, agresif, dan selalu ingin mendahului.
Gobin mencontohkan, bila ingin menyuruh anak mandi, Anda tidak bisa mengatakan pada anak yang dominance, "Ayo, mandi!". "Berikan pilihan pada anak, misalnya, 'Kamu mau mandi sekarang, atau mandi 10 menit lagi?'. Jadi, anak diberi pilihan untuk melakukan kegiatannya. Sebenarnya tidak ada bedanya kan, mandi sekarang atau 10 menit lagi?" katanya.
Untuk bisa "mengatur" anak tanpa disadarinya, tentu Anda harus mengetahui lebih dulu bagaimana karakternya. Setelah itu, pertimbangkan dulu cara terbaik untuk mengarahkan anak sesuai karakternya.
Peran Orangtua Berubah Mengikuti Usia Anak
Kamis, 27 Mei 2010Jurang pemisah dalam hubungan orangtua dan anak seringkali menonjol saat anak tumbuh remaja. Penyebabnya orangtua tidak menyadari peran yang harus selalu berubah mengikuti perkembangan kepribadian dan usia anak.
Psikolog remaja Roslina Verauli mengatakan, orangtua harus paham bahwa perannya selalu berubah. Kapan saatnya menjadi baby sitter, dan kapan saatnya menjadi teman, namun tetap memberikan supervisi.
Jika remaja mulai memasuki pengalaman gebet-menggebet misalnya, orangtua tidak memahami bagaimana gaya gebetan remaja. Seringkali orangtua melarang anak karena khawatir terjebak pergaulan negatif. Akhirnya terjadi gap dalam hubungan orangtua dan anak, sehingga anak lebih terbuka kepada orang lain (teman) daripada keluarganya.
"Anak berkembang dan bertumbuh, sementara peran orangtua dalam menjalani masa tumbuh kembang anak ini tidak sama. Orangtua harus melihat perubahan di sekitarnya, sehingga pola asuh mereka berubah menyesuaikan perkembangan anak," papar Vera, dalam media briefing Lomba Serangan Cinta Cornetto di Jakarta, Kamis (29/4/2010) lalu.
Orangtua perlu mendengarkan anak-anak, terutama remaja, tegas Vera. Dalam dunia gebetan anak-anak misalnya, tak semua orangtua bisa mengerti konsep gebetan pada remaja. Padahal, Vera melanjutkan, dating pada remaja lebih kepada having fun, bukan mengarah kepada komitmen serius seperti dating pada usia 20-an.
Menurut Vera, orangtua perlu mengenali pertumbuhan remaja dengan menjadikannya sebagai teman, dan mendiskusikan masalah. Vera menyebutkan peran orangtua menyesuaikan perkembangan usia dan kebutuhan anak seperti:
Usia 0 - 2 tahun: Orangtua berperan sebagai baby sitter.
Usia 3 - 6 tahun: Orangtua berperan sebagai pengasuh sekaligus menanamkan nilai moral.
Usia 6 - 12 tahun: Anak sudah mengenal pertemanan, sehingga orangtua berperan sebagai teman tetapi masih memberikan supervisi.
Usia 13 - 20 tahun: Orangtua berperan sebagai teman tetapi menjalin hubungan dengan diskusi. Artinya supervisi yang diberikan orangtua masih dibutuhkan namun dengan diskusi, dan bukan mengarahkan menurut kemauan orangtua.
Grosir Busana Muslim Untuk Anak
Kamis, 13 Mei 2010Di samping tempat BAJU HAMIL, juga di taruh baju anak. Hal ini tentu saja untuk memberikan kesempatan ibu –ibu melihat baju lucu untuk putra dan putrid mereka. Dengan strategi yang seperti ini, pasti omset penjualan dari toko tersebut akan naik dengan pesat. Strategi ini juga telah dilakukan oleh banyak supermarket terkenal, mereka menaruh beraneka barang di dekat kasir, jadi para pembeli yang hendak membayar bisa melihat barang tersebut sembari mengantri.
Kapan Saatnya Orangtua Melarang Remaja Berpacaran?
Rabu, 12 Mei 2010Gaya berpacaran remaja lebih pada having fun dan bukan hubungan yang mengarah komitmen, seperti masa pacaran di atas usia 20 tahun. Di atas usia ini, hubungannya lebih intimate atau eksklusif secara emosional, passionate, dan mengarah pada pernikahan. Namun, dengan konsep diri yang terbangun baik, remaja lebih percaya diri dan tidak akan melakukan tindakan negatif saat berpacaran.
"Remaja sekarang mempunyai pilihan, termasuk dalam berteman. Apalagi dengan kecanggihan teknologi di mana anak bisa membangun pertemanan melalui jejaring sosial, misalnya. Remaja dengan konsep diri yang baik akan tahu cara menggebet yang benar. Peran orangtua adalah sebagai teman dan tidak menggurui," ujar psikolog remaja, Roslina Verauli, dalam media briefing kompetisi foto bagi remaja, "Lomba Serangan Cinta Cornetto", di Jakarta, Kamis (29/4/2010).
Menjadi mengkhawatirkan jika anak usia remaja menjalani pacaran dengan gaya usia matang. Anda bisa mengamati ciri-cirinya, di mana anak mulai mengalami ketergantungan kepada orang lain, termasuk kepada sang pacar.
"Remaja yang kesepian, merasa tidak punya kelebihan yang bisa dibanggakan, dan tidak mengenali dirinya cenderung akan bergantung kepada orang lain. Termasuk saat memasuki masa gebet-menggebet yang tidak lagi untuk bersenang-senang," jelas Vera, menambahkan, orangtua perlu lebih tegas dengan membantu anak memperbaiki konsep dirinya.
Artinya, jika anak remaja Anda sudah menunjukkan tanda berpacaran seperti orang dewasa, sebaiknya minta anak untuk menyudahi pacaran. Ajak anak mengenali dirinya dengan melibatkan dalam kegiatan ekstrakurikuler, ajang kompetisi, memiliki pertemanan yang sehat, dan mendukungnya untuk berprestasi.
