Persaingan Sehat Sesama Saudara Kandung

Sabtu, 26 Juni 2010
Ada mitos yang mengungkapkan bahwa semakin banyak anak, semakin banyak rezeki. Entah benar atau tidaknya mitos itu, tetapi sedikit atau banyaknya anak yang dimiliki, semuanya tetap perlu menerapkan pengasuhan yang baik. Pola pengasuhan yang tepat akan membimbing si kecil untuk mengasah potensi untuk masa depannya.

Khusus yang memiliki anak lebih dari satu, bersiaplah adanya kompetisi atau persaingan antar-buah hati Anda. Persaingan tersebut wajar saja terjadi.

Namun, akan tidak normal bila persaingan itu diwarnai aksi cemburu, marah, hingga berkelahi. Bahkan bisa saja setelah dilerai, anak-anak akan tetap memperebutkan mainan, pakaian, makanan, juga kasih sayang orangtua.

Mengutip dari buku The Golden Rules to Raise Your Children, karangan Dr Alicia Christine, semakin sedikit perbedaan usia antara seorang anak dan saudaranya, semakin ketat pula persaingan yang ada. Persaingan itu timbul akibat dari dua anak atau lebih memiliki kebutuhan yang serupa sehingga mereka memperebutkan perhatian yang sama dari orangtuanya.

Hal lain yang dapat menajamkan persaingan tidak sehat ini akibat perhatian orangtua yang lebih dekat dengan salah satu anaknya saja.

Bahkan, ada penelitian yang menyimpulkan bahwa lebih dari dua pertiga anak usia lima hingga enam tahun merasa ibu mereka memilih salah seorang anak saja sebagai anak kesayangan.

Hal inilah yang sebaiknya menjadi perhatian setiap orangtua. Mulailah berikan kasih sayang dan perhatian seimbang kepada masing-masing anak.

Di sisi lain, libatkan anak-anak dalam sebuah kegiatan bersama. Misalnya, pada akhir pekan, habiskan waktu bersama untuk menyiapkan bahan masakan, menata meja makan, dan membersihkan piring-piring kotor. Tetapi ingat, selama proses tersebut, mereka tidak boleh luput dari pengawasan Anda.

Selain itu, sebagai orangtua, baik istri maupun suami harus menetapkan aturan yang sama. Oleh karena itu, konsekuensi akibat ketidakpatuhan kepada ibu juga berlaku sama saat melakukannya terhadap sang ayah.

Hargai perbedaan. Tekankan pada anak-anak Anda bahwa mereka adalah individu berbeda yang memiliki talenta masing-masing. Oleh karena tugas sebagai orangtua, ajak anak untuk tidak membandingkan kemampuannya dengan saudaranya, begitu juga Anda.

Selain itu, sebaiknya Anda menghindari pelabelan nama kepada masing-masing anak. Contohnya, si pintar, jagoan favorit, atau si bandel. Bersikaplah netral dan berikan pujian yang wajar. Hal ini untuk mencegah rasa cemburu sesama anak Anda.

Kok Si Bungsu Enggak Kayak Abangnya?

Kamis, 17 Juni 2010

"Saya heran, si Dita (3, bukan nama sebenarnya) ini perempuan, tapi kok 'rusuh' begini ya? Semua mainannya rusak diinjak-injak. Dia juga keras kepala sekali. Beda banget sama si Adit (8, juga bukan nama sebenarnya) waktu kecil. Dia manis sekali, kalau diberitahu ya gampang nurut," kata Yani (41), menceritakan dua buah hatinya.

Anda yang memiliki dua anak atau lebih, pasti pernah mengalami masa-masa membandingkan si sulung dengan si bungsu, atau si sulung dengan si tengah. Seperti pengalaman Yani di atas, Anda tak habis pikir mengapa perilaku anak-anak Anda sangat bertolak belakang. Padahal, Anda dan suami menerapkan pola pengasuhan yang sama.

Jangan terkejut bila Anda mengetahui jawabannya. Menurut Gobin Vashdev, seorang parenting motivator, inilah kesalahan umum para orangtua, yaitu membandingkan anak-anaknya. "Anak pertama dan kedua itu biasanya beda banget karakternya, tapi kita justru memperlakukan mereka dengan cara yang sama," ujar Gobin, dalam talk show yang digelar Enfagrow A+ di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Setiap anak berbeda, dan orangtua seharusnya justru tahu bagaimana cara menghadapi mereka sesuai karakternya. Hal ini ada kaitannya dengan DISC profile, atau tipe kepribadian anak yang terdiri atas dominance, influence, steadiness, dan compliance.

Anak yang masuk kategori dominance, misalnya, biasanya tidak bisa diatur. Anak-anak dengan tipe dominance yang kuat adalah tipe yang menuntut, keras, egosentris, punya kemauan dan tekad yang kuat, ambisius, agresif, dan selalu ingin mendahului.

Gobin mencontohkan, bila ingin menyuruh anak mandi, Anda tidak bisa mengatakan pada anak yang dominance, "Ayo, mandi!". "Berikan pilihan pada anak, misalnya, 'Kamu mau mandi sekarang, atau mandi 10 menit lagi?'. Jadi, anak diberi pilihan untuk melakukan kegiatannya. Sebenarnya tidak ada bedanya kan, mandi sekarang atau 10 menit lagi?" katanya.

Untuk bisa "mengatur" anak tanpa disadarinya, tentu Anda harus mengetahui lebih dulu bagaimana karakternya. Setelah itu, pertimbangkan dulu cara terbaik untuk mengarahkan anak sesuai karakternya.

 

Browse