Hal yang membuat kita tidak bersyukur
Selasa, 15 Februari 2011Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan,bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi target dan keinginan.
Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yg mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan ..
Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi.
Jadi, betapa pun banyak yang kita miliki, kita tak pernah menjadi "KAYA" dalam arti yang sesungguhnya.
Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ''kaya''.
Orang yang ''kaya'' bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan,tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yg sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.
Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, ''Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.'' Ini perwujudan rasa syukur.
Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.
Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah :
Kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.
Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah.
Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Saya menjadi gemar bergonta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar.
Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.
Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, ''Lulu, Lulu.'' Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini.
Si dokter menjawab, ''Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.'' Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ''Lulu, Lulu''. ''Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?'' tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, ''Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.''
Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, ''Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.''
Bersyukurlah !
Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki sgl sesuatu yg kamu inginkan....
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ?
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar ...
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit ...
Di masa itulah kamu tumbuh ...
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang ...
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru ...
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu ...
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat ...
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga ...
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih ...
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan ...
Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik...
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut...
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif ...
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu ...
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6810275
Self Assessment System
www.jasa-pajak.com/, ya itulah url website pajak yang saya browsing saat ini. Di sana dengan jelas bisa kita melihat kalau jasa ini sudah memiliki pengalaman dan sertifikat. Jadi menurut saya kita bisa meminta bantuan untuk memecahkan masalah pajak kita melalui website ini.
Sepatu Futsal Adidas F50 Adizero
Jumat, 14 Januari 2011Di toko ini saya juga browsing baju kaos volcom yang bisa di bilang harganya juga murah. Baju Murah bukan berarti kualitas murahankan??
Kekasih Rinduku
Selasa, 04 Januari 2011Kekasih Rinduku
wahai malam..........
jangan kau redupkan sinar dihatinya
tuk slalu menjadi cahaya cinta dihatiku
ungkap segala gundah dan resah dalam jiwa
mekarkan bunga-bunga kerinduan dalam asmara
wahai sepi.........
jangan kau sembunyikan cintanya dariku
karna yang kuharap besar sayangnya kepadaku
bangunkan rindu yang resah dalam kalbu
usik lamunan di gelap asa yang tak mengaku
wahai dingin........
jangan kau bekukan kerinduan di antara kami
karna dia slalu hadir dalam mimpi-mimpi
getarkan dawai-dawai cinta dalam hati
nyanyikan desir angin di tiap sudut sepi
wahai kekasih......
berikan aku setangkai kelembutan jiwa
tuk mampu ungkap tirai-tirai asa tersisa
sampaikan ungkap jiwa dalam relung-relung rindu
kepadamu..........
wahai kekasih rinduku.......
Persaingan Sehat Sesama Saudara Kandung
Sabtu, 26 Juni 2010Khusus yang memiliki anak lebih dari satu, bersiaplah adanya kompetisi atau persaingan antar-buah hati Anda. Persaingan tersebut wajar saja terjadi.
Namun, akan tidak normal bila persaingan itu diwarnai aksi cemburu, marah, hingga berkelahi. Bahkan bisa saja setelah dilerai, anak-anak akan tetap memperebutkan mainan, pakaian, makanan, juga kasih sayang orangtua.
Mengutip dari buku The Golden Rules to Raise Your Children, karangan Dr Alicia Christine, semakin sedikit perbedaan usia antara seorang anak dan saudaranya, semakin ketat pula persaingan yang ada. Persaingan itu timbul akibat dari dua anak atau lebih memiliki kebutuhan yang serupa sehingga mereka memperebutkan perhatian yang sama dari orangtuanya.
Hal lain yang dapat menajamkan persaingan tidak sehat ini akibat perhatian orangtua yang lebih dekat dengan salah satu anaknya saja.
Bahkan, ada penelitian yang menyimpulkan bahwa lebih dari dua pertiga anak usia lima hingga enam tahun merasa ibu mereka memilih salah seorang anak saja sebagai anak kesayangan.
Hal inilah yang sebaiknya menjadi perhatian setiap orangtua. Mulailah berikan kasih sayang dan perhatian seimbang kepada masing-masing anak.
Di sisi lain, libatkan anak-anak dalam sebuah kegiatan bersama. Misalnya, pada akhir pekan, habiskan waktu bersama untuk menyiapkan bahan masakan, menata meja makan, dan membersihkan piring-piring kotor. Tetapi ingat, selama proses tersebut, mereka tidak boleh luput dari pengawasan Anda.
Selain itu, sebagai orangtua, baik istri maupun suami harus menetapkan aturan yang sama. Oleh karena itu, konsekuensi akibat ketidakpatuhan kepada ibu juga berlaku sama saat melakukannya terhadap sang ayah.
Hargai perbedaan. Tekankan pada anak-anak Anda bahwa mereka adalah individu berbeda yang memiliki talenta masing-masing. Oleh karena tugas sebagai orangtua, ajak anak untuk tidak membandingkan kemampuannya dengan saudaranya, begitu juga Anda.
Selain itu, sebaiknya Anda menghindari pelabelan nama kepada masing-masing anak. Contohnya, si pintar, jagoan favorit, atau si bandel. Bersikaplah netral dan berikan pujian yang wajar. Hal ini untuk mencegah rasa cemburu sesama anak Anda.
Kok Si Bungsu Enggak Kayak Abangnya?
Kamis, 17 Juni 2010"Saya heran, si Dita (3, bukan nama sebenarnya) ini perempuan, tapi kok 'rusuh' begini ya? Semua mainannya rusak diinjak-injak. Dia juga keras kepala sekali. Beda banget sama si Adit (8, juga bukan nama sebenarnya) waktu kecil. Dia manis sekali, kalau diberitahu ya gampang nurut," kata Yani (41), menceritakan dua buah hatinya.
Anda yang memiliki dua anak atau lebih, pasti pernah mengalami masa-masa membandingkan si sulung dengan si bungsu, atau si sulung dengan si tengah. Seperti pengalaman Yani di atas, Anda tak habis pikir mengapa perilaku anak-anak Anda sangat bertolak belakang. Padahal, Anda dan suami menerapkan pola pengasuhan yang sama.
Jangan terkejut bila Anda mengetahui jawabannya. Menurut Gobin Vashdev, seorang parenting motivator, inilah kesalahan umum para orangtua, yaitu membandingkan anak-anaknya. "Anak pertama dan kedua itu biasanya beda banget karakternya, tapi kita justru memperlakukan mereka dengan cara yang sama," ujar Gobin, dalam talk show yang digelar Enfagrow A+ di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Setiap anak berbeda, dan orangtua seharusnya justru tahu bagaimana cara menghadapi mereka sesuai karakternya. Hal ini ada kaitannya dengan DISC profile, atau tipe kepribadian anak yang terdiri atas dominance, influence, steadiness, dan compliance.
Anak yang masuk kategori dominance, misalnya, biasanya tidak bisa diatur. Anak-anak dengan tipe dominance yang kuat adalah tipe yang menuntut, keras, egosentris, punya kemauan dan tekad yang kuat, ambisius, agresif, dan selalu ingin mendahului.
Gobin mencontohkan, bila ingin menyuruh anak mandi, Anda tidak bisa mengatakan pada anak yang dominance, "Ayo, mandi!". "Berikan pilihan pada anak, misalnya, 'Kamu mau mandi sekarang, atau mandi 10 menit lagi?'. Jadi, anak diberi pilihan untuk melakukan kegiatannya. Sebenarnya tidak ada bedanya kan, mandi sekarang atau 10 menit lagi?" katanya.
Untuk bisa "mengatur" anak tanpa disadarinya, tentu Anda harus mengetahui lebih dulu bagaimana karakternya. Setelah itu, pertimbangkan dulu cara terbaik untuk mengarahkan anak sesuai karakternya.
Peran Orangtua Berubah Mengikuti Usia Anak
Kamis, 27 Mei 2010Jurang pemisah dalam hubungan orangtua dan anak seringkali menonjol saat anak tumbuh remaja. Penyebabnya orangtua tidak menyadari peran yang harus selalu berubah mengikuti perkembangan kepribadian dan usia anak.
Psikolog remaja Roslina Verauli mengatakan, orangtua harus paham bahwa perannya selalu berubah. Kapan saatnya menjadi baby sitter, dan kapan saatnya menjadi teman, namun tetap memberikan supervisi.
Jika remaja mulai memasuki pengalaman gebet-menggebet misalnya, orangtua tidak memahami bagaimana gaya gebetan remaja. Seringkali orangtua melarang anak karena khawatir terjebak pergaulan negatif. Akhirnya terjadi gap dalam hubungan orangtua dan anak, sehingga anak lebih terbuka kepada orang lain (teman) daripada keluarganya.
"Anak berkembang dan bertumbuh, sementara peran orangtua dalam menjalani masa tumbuh kembang anak ini tidak sama. Orangtua harus melihat perubahan di sekitarnya, sehingga pola asuh mereka berubah menyesuaikan perkembangan anak," papar Vera, dalam media briefing Lomba Serangan Cinta Cornetto di Jakarta, Kamis (29/4/2010) lalu.
Orangtua perlu mendengarkan anak-anak, terutama remaja, tegas Vera. Dalam dunia gebetan anak-anak misalnya, tak semua orangtua bisa mengerti konsep gebetan pada remaja. Padahal, Vera melanjutkan, dating pada remaja lebih kepada having fun, bukan mengarah kepada komitmen serius seperti dating pada usia 20-an.
Menurut Vera, orangtua perlu mengenali pertumbuhan remaja dengan menjadikannya sebagai teman, dan mendiskusikan masalah. Vera menyebutkan peran orangtua menyesuaikan perkembangan usia dan kebutuhan anak seperti:
Usia 0 - 2 tahun: Orangtua berperan sebagai baby sitter.
Usia 3 - 6 tahun: Orangtua berperan sebagai pengasuh sekaligus menanamkan nilai moral.
Usia 6 - 12 tahun: Anak sudah mengenal pertemanan, sehingga orangtua berperan sebagai teman tetapi masih memberikan supervisi.
Usia 13 - 20 tahun: Orangtua berperan sebagai teman tetapi menjalin hubungan dengan diskusi. Artinya supervisi yang diberikan orangtua masih dibutuhkan namun dengan diskusi, dan bukan mengarahkan menurut kemauan orangtua.
