Peran Orangtua Berubah Mengikuti Usia Anak

Kamis, 27 Mei 2010

Jurang pemisah dalam hubungan orangtua dan anak seringkali menonjol saat anak tumbuh remaja. Penyebabnya orangtua tidak menyadari peran yang harus selalu berubah mengikuti perkembangan kepribadian dan usia anak.

Psikolog remaja Roslina Verauli mengatakan, orangtua harus paham bahwa perannya selalu berubah. Kapan saatnya menjadi baby sitter, dan kapan saatnya menjadi teman, namun tetap memberikan supervisi.

Jika remaja mulai memasuki pengalaman gebet-menggebet misalnya, orangtua tidak memahami bagaimana gaya gebetan remaja. Seringkali orangtua melarang anak karena khawatir terjebak pergaulan negatif. Akhirnya terjadi gap dalam hubungan orangtua dan anak, sehingga anak lebih terbuka kepada orang lain (teman) daripada keluarganya.

"Anak berkembang dan bertumbuh, sementara peran orangtua dalam menjalani masa tumbuh kembang anak ini tidak sama. Orangtua harus melihat perubahan di sekitarnya, sehingga pola asuh mereka berubah menyesuaikan perkembangan anak," papar Vera, dalam media briefing Lomba Serangan Cinta Cornetto di Jakarta, Kamis (29/4/2010) lalu.

Orangtua perlu mendengarkan anak-anak, terutama remaja, tegas Vera. Dalam dunia gebetan anak-anak misalnya, tak semua orangtua bisa mengerti konsep gebetan pada remaja. Padahal, Vera melanjutkan, dating pada remaja lebih kepada having fun, bukan mengarah kepada komitmen serius seperti dating pada usia 20-an.

Menurut Vera, orangtua perlu mengenali pertumbuhan remaja dengan menjadikannya sebagai teman, dan mendiskusikan masalah. Vera menyebutkan peran orangtua menyesuaikan perkembangan usia dan kebutuhan anak seperti:
Usia 0 - 2 tahun: Orangtua berperan sebagai baby sitter.
Usia 3 - 6 tahun: Orangtua berperan sebagai pengasuh sekaligus menanamkan nilai moral.
Usia 6 - 12 tahun: Anak sudah mengenal pertemanan, sehingga orangtua berperan sebagai teman tetapi masih memberikan supervisi.
Usia 13 - 20 tahun: Orangtua berperan sebagai teman tetapi menjalin hubungan dengan diskusi. Artinya supervisi yang diberikan orangtua masih dibutuhkan namun dengan diskusi, dan bukan mengarahkan menurut kemauan orangtua.

Grosir Busana Muslim Untuk Anak

Kamis, 13 Mei 2010
Anak – anak memang menjadi sasaran empuk buat pemasaran segala barang, dari mainan hingga pakaian. Para orang tua tentu akan memberikan apapun yang di inginkan anaknya yang tentu saja yang mampu mereka berikan sebatas kemampuan. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh pedagang baju muslim yang memberikan promosi GROSIR BUSANA MUSLIM anak. Mereka menyadari betul kalau orang tua si anak pasti tidak akan melewatkan kesempatan untuk membelikan baju yang baru untuk anaknya.

Di samping tempat BAJU HAMIL, juga di taruh baju anak. Hal ini tentu saja untuk memberikan kesempatan ibu –ibu melihat baju lucu untuk putra dan putrid mereka. Dengan strategi yang seperti ini, pasti omset penjualan dari toko tersebut akan naik dengan pesat. Strategi ini juga telah dilakukan oleh banyak supermarket terkenal, mereka menaruh beraneka barang di dekat kasir, jadi para pembeli yang hendak membayar bisa melihat barang tersebut sembari mengantri.

Kapan Saatnya Orangtua Melarang Remaja Berpacaran?

Rabu, 12 Mei 2010

Gaya berpacaran remaja lebih pada having fun dan bukan hubungan yang mengarah komitmen, seperti masa pacaran di atas usia 20 tahun. Di atas usia ini, hubungannya lebih intimate atau eksklusif secara emosional, passionate, dan mengarah pada pernikahan. Namun, dengan konsep diri yang terbangun baik, remaja lebih percaya diri dan tidak akan melakukan tindakan negatif saat berpacaran.

"Remaja sekarang mempunyai pilihan, termasuk dalam berteman. Apalagi dengan kecanggihan teknologi di mana anak bisa membangun pertemanan melalui jejaring sosial, misalnya. Remaja dengan konsep diri yang baik akan tahu cara menggebet yang benar. Peran orangtua adalah sebagai teman dan tidak menggurui," ujar psikolog remaja, Roslina Verauli, dalam media briefing kompetisi foto bagi remaja, "Lomba Serangan Cinta Cornetto", di Jakarta, Kamis (29/4/2010).

Menjadi mengkhawatirkan jika anak usia remaja menjalani pacaran dengan gaya usia matang. Anda bisa mengamati ciri-cirinya, di mana anak mulai mengalami ketergantungan kepada orang lain, termasuk kepada sang pacar.

"Remaja yang kesepian, merasa tidak punya kelebihan yang bisa dibanggakan, dan tidak mengenali dirinya cenderung akan bergantung kepada orang lain. Termasuk saat memasuki masa gebet-menggebet yang tidak lagi untuk bersenang-senang," jelas Vera, menambahkan, orangtua perlu lebih tegas dengan membantu anak memperbaiki konsep dirinya.

Artinya, jika anak remaja Anda sudah menunjukkan tanda berpacaran seperti orang dewasa, sebaiknya minta anak untuk menyudahi pacaran. Ajak anak mengenali dirinya dengan melibatkan dalam kegiatan ekstrakurikuler, ajang kompetisi, memiliki pertemanan yang sehat, dan mendukungnya untuk berprestasi.

Berbagi Tips dan Triks Gratis

Sabtu, 08 Mei 2010
Dapatkan Tips dan triks Gratis untuk menghasilkan Uang Dari Blog. Di
www.uangdariblog.com anda akan menemukan banyak sekali tips yang akan
membatu anda mendapatkan penghasilan pertama dari blog. Semua tips dan
trik itu bisa anda dapatkan dengan gratis tanpa mengeluarkan uang
sepeserpun. Selain dari Di www.uangdariblog.com, anda juga bisa
mendapatkan berbagai trik di www.ayoberbagi.com.

Hadirkan Menu Restoran di Rumah

Rabu, 28 April 2010


Banyaknya rumah makan baru saat ini membuat selera makan anak berkembang. Mereka menjadi enggan makan makanan rumahan karena dianggap kurang memancing selera. Akhirnya, agar anak mau makan dan gizinya terpenuhi, orangtua lagi-lagi membawa anak ke restoran.

Rina Poerwadi, dari Mom Can Cook, mengatakan bahwa menjadi tugas ibu untuk menyesuaikan selera makan anak yang berorientasi pada masakan restoran ini.

"Selera makan anak kini memang berubah karena mereka punya banyak pilihan, termasuk makanan di restoran. Ibu harus menyesuaikannya dengan menghadirkan makanan restoran di rumah, dengan memasaknya," papar Rina seusai konferensi pers "100 % Nutrisi untuk Buah Hati" yang diadakan oleh MeadJohnson di Jakarta, Rabu (3/2/2010).

Anda bisa mengombinasikan makanan di rumah dengan bahan yang simpel dan disukai anak-anak. Pilihan resep bisa dicari melalui banyak cara, yaitu internet, baca buku resep, atau bahkan ikut kursus masak. Bagi Rina, yang terpenting dari resep masakan adalah mindset sang ibu yang harus diubah. Karena pola makan dan selera makan anak ditentukan oleh ibunya.

"Masalah anak sulit makan jangan terlalu dibuat kompleks. Ibu harus mencoba lebih dahulu, dengan menyajikan masakan buatannya. Lalu cari tahu apa yang tepat untuk anak, baik dari makanan kesukaan, asupan gizi, maupun porsi yang tepat. Lama-kelamaan ibu akan tahu kebutuhan anak, dan makanan apa yang tepat sehingga selera makan anak pun bisa teratasi dari rumah," jelas Rina.

Gamblangnya, jika si ibu tak pernah mencoba memasak maka dia tak akan pernah memasak. Padahal, ibu yang memasak sendiri atau menyiapkan bekal untuk sekolah anak akan menumbuhkan kecintaan anak pada makanan rumah. Pilihan menu dengan konsep ATM (amati, tiru, dan modifikasi) dari restoran sekalipun sah saja.

Dengan memasak sendiri menu restoran kesukaan anak di rumah, perhatian ibu kepada anak ataupun sebaliknya menjadi terbangun.

"Fase perempuan setelah menikah, melahirkan, dan kemudian mengasuh anak akan berujung kepada fokus perhatian kepada anak," ujar Rina.

Memberikan perhatian bisa dengan membuatkan makanan sendiri. Meski sibuk dengan urusan lain, atau bagi ibu bekerja, sempatkan waktu untuk setidaknya mengolah makanan sendiri di dapur untuk anak, lanjutnya. Tak harus setiap jam makan, misalkan untuk sarapan saja, dengan membuat egg sandwich misalnya. Bentuk perhatian ini tak hanya akan membuat anak senang. Namun sebagai ibu, Anda pun terpuaskan karena Anda sanggup membagi waktu dan memberi perhatian utuh untuk buah hati.

Pada akhirnya, urusan makanan anak pun menjadi bagian dari pola pengasuhan orang tua. Dengan sajian yang tepat dan bukan ala kadarnya, bukan tidak mungkin si anak tak habisnya memuji Anda. Akan menjadi kepuasan tersendiri bukan, jika si anak jadi doyan makan lantaran senang ibunya mampu menghadirkan masakan yang biasanya didapat di restoran.

Trik Memancing Selera Makan Anak

Sabtu, 17 April 2010


Tak sedikit para ibu yang was-was jika anak mulai tak mau makan. Namun perlu dipahami, letak masalahnya bukan pada diri anak. Bagaimana Anda memberi perhatian penuh saat waktu makan, dan kreativitas yang dibuat agar makan menjadi menyenangkan buat anak, itu yang penting.

Rina Poerwadi, praktisi Holistic Aromatherapy, dalam konferensi pers "100 % Nutrisi untuk Buah Hati" yang diadakan oleh MeadJohnson di Jakarta, Rabu (3/1/2010), berbagi rahasia. Diakuinya kreativitas Anda menjadi ujung tombak supaya anak lahap dengan makanannya, seperti:

Waktu makan menjadi hiburan bagi anak
Menghibur anak tak sekadar mengajaknya jalan ke mal, lalu mampir ke restoran cepat saji dimana menu kesukaan anak menunggu di sana. Kenali makanan kesukaan anak, lalu buatkan spesial untuknya dengan memasak sendiri di rumah. Jika perlu libatkan anak menyiapkan makanan. Dengan cara ini, anak merasa terhibur karena bisa menikmati makanan ala restoran di rumah buatan mamanya. Tanda dia menyukai masakan Anda adalah, makannya lahap, tak bosan, dan meminta dibuatkan lagi keesokan harinya. Jika sudah begini, Anda pun bisa senyum sumringah. Untuk menjalani ini tentu Anda perlu mengubah kebiasaan tak suka memasak menjadi semangat mencari menu baru, lalu mulai belajar membuatnya. Harus dicoba bukan?

Mengakali sayuran
Sayur menjadi musuh besar bagi anak. Memberikan sayur dalam bentuk utuh memang tak selamanya berhasil. Padahal sayur penting untuk asupan serat dan vitamin pada anak. Untuk menyembunyikan sayuran dalam makanan anak, rebus sayuran (misalkan brokoli), lalu gunakan air rebusan sayur untuk dicampurkan pada makanan anak. Karena, jika Anda merebus sayuran, vitamin pada sayuran akan larut pada kuah sayuran tersebut. Memang, anak tidak memakan brokoli secara langsung, tapi biarkan proses masuknya asupan gizi dari sayuran berjalan bertahap. Jangan memaksakan anak, karena nantinya anak akan merasa waktu makan begitu menyebalkan.

Asupan gizi terpenuhi dengan kreasi menu
Kreasikan menu di rumah dengan asupan gizi yang tepat untuk kebutuhan anak. Tentu saja gizi yang baik harus disesuaikan dengan umur dan berat badan anak. Tidak usah terlalu mengkhawatirkan apakah angka kecukupan gizi pada anak sudah terpenuhi. Berikan makanan dengan asupan gizi lengkap secara bertahap, termasuk dalam memberikan susu. Campurkan saja susu dalam menu sup kreasi Anda. Lagi-lagi, rajinlah mengumpulkan menu sehat untuk anak dan variasikan sesuai kebutuhan.

Ciptakan suasana seru
Keterlibatan orangtua menjadi penting untuk urusan makan pada anak. Jika Anda punya kebiasaan minum teh, dan anak Anda sudah waktunya makan ringan, ciptakan permainan seru. Ajak anak, misalkan bermain minum teh, belikan cangkir kecil yang menarik buat anak-anak, lalu berikan sup pada anak, sementara Anda minum teh. Dengan cara ini Anda menciptakan kebersamaan dengan buah hati, sementara asupan gizinya pun terpenuhi.

Menyembuhkan Tekanan Darah Tinggi

Selasa, 13 April 2010
Tekanan darah tinggi memang merupakan suatu penyakit yang susah di sembuhkan. Tentu saja jika kita rutin chek ke dokter dan meminum obat secara teratur, penyakit ini bisa disembuhkan. Tentu saja hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah matang ekonominya. Bagaimana dengan orang yang ekonominya pas-pasan? Tentu saja untuk melakukan cek rutin akan sangat berat, apalagi ditambah dengan harga obat-obatan yang bisa dibilang cukup mahal.

Untuk beberapa orang, penggunaan OBAT HERBAL sangatlah di anjurkan. Obat herbal cukup gampang untuk di dapat, bahkan kita tidak perlu untuk membelinya. Kita cukup menanamnya di kebun belakang rumah kita. Ya, sangat mudah untuk menemukan obat untuk darah tinggi. Obatnya adalah seledri, sangat mudah untuk kita temukan. Kita biasa memakannya saat kita membeli bakso. Jadi jangan pernah ragu untuk menggunakan OBAT TRADISIONAL yang sudah diwariskan oleh orang tua kita terdahulu.
 

Browse